/Menentukan Fokus, Batasan dan Identifikasi Masalah dalam Bab I Pendahuluan

Menentukan Fokus, Batasan dan Identifikasi Masalah dalam Bab I Pendahuluan




Pendahuluan

Perlukah kita menentukan masalah yang akan diteliti? Menjawab pertanyaan ini membawa kita pada suatu masalah yang sering dialami mahasiswa dalam menulis karya ilmiah berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Kebingungan ini akan kami sajikan dalam bentuk uraian yang layak kiranya untuk dibaca dan ditelaah. Terkadang dalam melihat masalah yang banyak dijumpai di lapangan dalam survei awal atau studi pendahuluan membuat kita berada dalam masalah itu. Artinya kita tidak paham yang mana yang layak untuk diteliti, ditelaah lebih lanjut dan sesuai minat dalam yang digeluti. Ada banyak sudut pandang teoritis dalam melihat masalah namun kita sebenarnya hanya butuh satu sudut pandang dalam menguraikan dan menelaah masalah tersebut. Hal pertama menurut hemat penulis adalah kita butuh fokus, kita butuh batasan, kita butuh identifikasi. Lantas bagaimana caranya….

Menentukan fokus masalah (kualitatif-deskriptif-naturalistik)

Banyak problem yang ditemukan di masyarakat jika minat kajian anda adalah masalah sosial, dalam bidang ilmu sains, teknologi, pendidikan, keagamaan, dan bidang-bidang lainnya juga demikian. Biasanya masalah itu muncul dengan natural ketika anda membuka ruang keilmuan yang anda geluti dengan baik. Biasanya narasi dalam menuliskan fokus dalam penelitian ini adalah ketika yang ingin diteliti tersebut terjadi pengembangan masalah dalam penelitian kualitatif. Sebagaimana riset kualitatif ini adalah naturalistik, maka perlu adanya fokus, dan peneliti tidak terlena dalam kajian yang terus bersangkut paut dalam berbagai variabel yang mempengaruhi jalan berpikir. Fokus artinya memusatkan pada satu dua dan beberapa masalah yang akan diangkat.

Semua masalah yang dijumpai memang penting, misalnya saja dalam bidang pendidikan, ada unsur-unsur pendidikan meliputi, peserta didik (murid), tenaga pendidik (guru), materi pendidikan (kurikulum), metode belajar, sarana pendidikan (bangunan fisik dan non fisik) dan evaluasi pendidikan (efek-fungsi dari pendidikan) serta berbagai hal yang terkait dengan pendidikan. Nah…bagian manakah yang menjadi fokus utama yang menjadi penelitian, apakah gurunya, muridnya, sarananya, atau evaluasinya? ini penting untuk dijelaskan dalam menentukan fokus mana yang akan diteliti, selanjutnya penting juga peneliti harus menjelaskan kenapa fokus ini menjadi kajian dan hal yang akan diteliti dengan berbagbagai alasan ilmiah yang menguatkan bahwa fokus kajian ini layak diteliti dan dikaji.

Jadi maksud dari fokus penelitian ini, adalah berkaitan dengan unsur dalam keilmuan dalam penelitian. Setiap keilmuan pada dasarnya ada objek/subjeknya, sederhananya adalah jika setiap keilmuan itu adalah unsur, metode, sarana, objek, subjek, dan sasarannya. Sebagai contoh uraian yang menjadi fokus beberapa tabel keilmuan dapat dicermati berikut ini:

KeilmuanSubjekSubjek/ObjekSaranaAlat/ metodeMateri
PendidikanGuruMuridKelas/lingkungan pendidikan, keluarga, sekolah dan masyarakatalat dan media pembelajaranSKS, RPP, dan bahan pelajaran
KomunikasiKomunikatorKomunikanMedia Saluran komunikasiPerangkat komunikasiPesan komunikasi
TasawufMursyid, syekh, khalifahSalikPersulukan, pondok, lembaga pendidkan non formalAmali, Akhlaki, falsafiAjaran tasawuf
HukumPenegak Hukum, hakim, aparatPelaku, masyarakat, oknumPengadilan, lembaga hukum,Kajian normatif, legal empiris, filosofis,Undang-undang dan peraturan
beberapa contoh uraian tentang keilmuan dalam menentukan sudut pandang fokus dalam penelitian.

Jika anda mencermati tabel di atas bahwa penulis menyakini bahwa setiap bidang keilmuan memiliki sudut pandang yang layak dijadikan fokus. apakah masalah fokus pada subjek keilmuan, atau objek, sarananya, atau metodenya, atau materi dari keilmuan tersebut. Jika anda memahami dengan baik tentang minat keilmuan anda, anda pasti tahu kemana arah fokus penelitian anda.

Menentukan batasan masalah penelitian (kuantitatif-kualitatif)

Menentukan batasan dengan fokus ini sebenarnya berbeda, menurut hemat peneliti. Ketika fokus ditentukan maka peneliti harus memilih satu atau beberapa dari bidang unsur keilmuan. Jika batasan ini lebih cenderung pada variabel yang muncul dari kajian dari satu unsur bidang keilmuan. Sebut saja seorang peneliti yang memfokuskan pada penelitian tentang materi pendidikan di sekolah A. Materi pendidikan, memiliki cabang pembahasan yang banyak dan mencakup berbagai bentuk kajian yang ada. Nah…. peneliti hanya perlu menentukan batasan dari kajian ini secara mendalam. Jika semua masalah dikaji secara komprehensif kita pada dasarnya membutuhkan waktu yang lama, padahal tuntutan dari waktu penelitian tidak mencukupi, inilah tujuan mendasar dari adanya batasan dalam masalah penelitian.

Dalam riset metode kuantitatif ini masalah dibatasi pada variabel yang akan ditentukan. Variabel menunjukkan adanya batasan dalam hal yang akan diteliti. Jadi tidak melenceng kemana-mana sehingga pembaca dapat memahami arah tujuan yang ingin disampaikan oleh peneliti.

Dalam riset menggunakan metode kualitatif yang dibatasi adalah kajian yang muncul secara konseptual atau teoritis dari suatu masalah. Misalnya saja meneliti tentang guru maka hal yang dibatasi adalah sudut pandang peneliti jangan sampai membuat penelitian ini menjadi rumit dan harus menguras tenaga waktu dan pikiran. Pada prinsipnya batasan masalah ini adalah berkaitan dengan kemampuan peneliti dalam mendalami masalah dilapangan. Jika mengambil banyak masalah dilapangan untuk dikaji maka pertanyaan dalam rumusan masalah akan menjadi banyak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti diperkirakan membutuhkan biaya, dan waktu yang lama. Inilah yang disarakan oleh pembimbing penelitian agar menentukan batasan masalah penelitian.

Identifikasi Masalah (kualitatif)

Identifikasi masalah ini pada prinsipnya adalah mendefenisikan masalah, menyederhanakan masalah, atau menjelaskan masalah dengan narasi yang dimudah dipahami. Sering kali ketika memilih dan membatasi masalah, namun peneliti tidak bisa mendeskripsikan masalah tersebut sesuai dengan sudut pandang penelitiannya. Penjelasan tentang identifikasi masalah malah tidak berkaitan dengan judul dan latar belakang masalah secara konsep atau secara teori. Dari berbagai narasi tentang fakta-fakta di lapangan yang dijelaskan pada latar belakang masalah, perlu dikaitkan dengan kajian konseptual, jika tidak ada berkaitan maka akan susah dalam mengindetifkasi masalah tersebut.

Secara umum, identifikasi masalah terdiri dari 3 langkah yaitu

  1. Menemukan dan masalah yang ada (Problem)
  2. Mengidentifikasi sumber permasalahan (Root cause)
  3. Menciptakan kalimat isu/kalimat permasalahan (Problem Statement) yang menjelaskan permasalahan yang sudah diidentifikasi
  4. Pertama, kalian harus menemukan masalah yang ada pada suatu fenomena atau suatu wilayah. Setelah itu, kalian perlu mengidentifikasi sumber permasalahannya, bisa jadi, permasalahan tersebut disebabkan oleh masalah lain.
  5. Setelah kalian menemukan kedua hal tersebut, kalian perlu merangkumnya dalam sebuah kalimat permasalahan atau kalimat isu yang komprehensif untuk menjelaskan permasalahan yang ada.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang ingin membangun rumah, maka perlu ia menjelaskan rumah seperti apa bentuknya dan model rumahnya. Nah….semen, pasir, tukang, dan lahan adalah unsur yang berkaitan untuk membuat rumah, nah…pertanyaannya apakah ada gambaran, denah atau peta dari pembuatan rumah ini agar mudah dipahami rumah bentuk apa yang akan dibangun. Menurut hemat peneliti, bahwa identifikasi masalah ini adalah merupakan peta masalah yang akan diteliti.

Kolaborasi

Secara ideal, ketiga hal di atas yang disebutkan, (fokus, batasan, dan identifkasi) dalam penulisan BAB I Pendahuluan dalam laporan penelitian bisa dikolaborasikan. Namun tradisi keilmuan dari suatu instansi ini memang berbeda-beda, para pembimbing dalam memahami juga berbeda-beda. Terkadang aturan atau pedoman dari instansi terkait menyarankan agar ada idenfikasi masalah, ada batasan masalah, ada fokus penelitian, ini cuma dalam bahasa narasi saja. Namun hakikat dari ketiganya harus ada dalam BAB I Pendahuluan baik secara formal-naratif, maupun sub judul. Jika memang harus naratif dalam latar belakang masalah ini juga bisa dinarasikan. Jika memang harus ada sub judul ini sangat baik. Yang paling penting ikutilah tradisi keilmuan sesuai dengan kebiasaan namun jangan intinya kolaborasikan saja.

Demikianlah tulisan kali semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan pemikiran bagi kita semua para peneliti dan bila ada kekurangan dan kritik anda silahkan di isi di kolom komentar.

Bagikan Artikel ini