Cara Story Telling dalam Menulis Berita Versi Public Relation Kehumasan

Menulis berita memang sangat dibutuhkan dalam rangka untuk menginformasikan suatu peristiwa penting. Melalui sebuah pemberitaan ini menjadi suatu bentuk catatan sejarah dari suatu instansi, organisasi, atau kisah pribadi. Berita ini tidak hanya dalam bentuk sajian tulisan yang dibaca dan dikonsumsi tetapi juga adalah sebuah laporan peristiwa untuk dapat diabadikan menjadi lembaran sejarah di masa berikutnya. Ada ungkapan bahwa berita adalah detik-detik sejarah, ini dimaknai bahwa pentingnya berita dalam menyajikan peristiwa.

Bagi yang masih bingung dengan cara menulis berita versi kehumasan suatu organisasi maka tulisan ini rasanya dapat memberikan contoh tentang menulis berita dalam kerangka humas. Berbeda dalam kerangka jurnalisitik umum, dimana semua yang menarik adalah bernilai berita. Menyesuaikan dengan sudut pandang dari medianya saja. Sedangkan kehumasan ini adalah organisasi yang melayani pemberitaan adalah membernya, kliennya, atau pelanggan. Maka informasi sesuai dengan kebutuhan dari partner dari orgranisasi tersebut.

Ada resep yang harus dipahami oleh pembuat berita oleh humas dari organisasi tersebut. Jadi tidak terlalu susah anda membayangkan konsep ini sebenarnya, tetapi anggap saja kita sedang memasak sesuai yang lezat di lidah para pelanggan anda. Humas ini ibarat sebuah koki di restoran mewah dimana pelanggan tetap sudah ada dan mereka mau sebenarnya membayar mahal jika makanannya adalah enak dan memuaskan pelanggan.

Maka dalam bahasa penyampaian penulis kali ini bahwa resep untuk membentuk berita dari humas suatu organisasi adalah Info+fakta/data+realitas/respon+promosi tujuan. Secara konsep bangunan suatu berita dimulai dari Informasi – kemudian dihiasi dengan fakta/data – ditambah dengan narasi tentang feedback atau realitas di lapangan – kemudian promosi dari sebagai penguatan eksistensi dari orgranisasi sebagai upaya mengenalkan dan mensosialisasikan tujuan dari orgranisasi tersebut.

Paragrap pertama (headline) : Narasi dengan Kesan Informatif yang Menarik

Dengan resep ini, ibarat suatu hidangan, dimana tampilan pertama adalah sangat penting sebagai penggugah selera, dalam membuat berita juga demikian paragraf pertama adalah informasi yang menarik minat pembaca atau informasi yang secara ringkas mendeskripsikan pokok inti acara. Bisa dijabarkan bahwa dalam tulisan ini bahan-bahan yang harus ada adalah paragraf pertama sebagai pembuka adalah harus informatif, menjelaskan awal (story telling) yang harus dinarasikan tidak luput dari konsep 5 W what, who, when dan where.

Contoh:

Seminar pendidikan berbasis kampus merdeka digelar dalam rangka untuk menguatkan pemahaman para dosen dan pegawai di Kampus Murmaruttung Alaan Naginjang Panobasan dilaksanakan di Aula Murmaruttung pada Senin 12 Januari 2022. Kegiatan tersebut mengusung tema tentang “Peran Kampus Murmaruttung dalam Memajukan Program Pendidikan Islam melalui Program Kampus Merdeka Belajar” telah dihadiri oleh seluruh dosen dan pegawai serta menghadirkan narasumber ternama Prof, Dr. Alexandra Pane spesialis bidang pendidikan dan komunikasi dari Lopo Alaan Naginjang Parsalakan Panobasan City.

Paragraf kedua, ketiga, dan keempat: Deskripsi tentang Peristiwa berdasarkan Data atau Fakta

Kembali dengan pengibaratan atau cerita memasak tadi bahwa bahan yang ada di dalam hidangan tersebut adalah berasal dari bahan yang berkualitas, terjamin dan terpercaya bebas dari hal-hal yang membahayakan bagi yang mengonsumsinya. Ibarat ini jika dijabarkan dalam bentuk berita dari humas suatu organisasi paragraf kedua, ketiga dan keempat jika data tersebut layak untuk dijelaskan maka penting untuk dideskripisikan dengan akurat dan terpecaya sumber datanya. Data tersebut bisa berupa hasil wawancara, bisa berupa data pengamatan selama peristiwa berlangsung.

Contoh jika data berdasarkan wawancara:

Rektor Universitas Murmaruttung, Prof. Dr. Wahyu Pane menjelaskan bahwa pentingnya seminar ini dalam rangka untuk mendukung program pendidikan dikampus yang lebih maju dan bisa mencapai target output pendidikan yang berkulitas. “Kita membutuhkan seminar ini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas lulusan universitas Murmaruttung yang memiliki kemudahan untuk akses dalam belajar. Merdeka Belajar yang menjadi salah satu program pendidikan kita kedepan. Tentunya hal pertama dalam hal ini adalah tenaga pendidiknya harus memahami hal tersebut” ungkapnya dalam sambutan pembukaan kegiatan seminar Pendidikan Merdeka Belajar.

Contoh jika data berdasarkan pengamatan:

Berdasarkan laporan ketua panitia, Dr. Aditiya,M.Si, para peserta yang hadir mencapai 50 orang peserta dari kalangan dosen, 32 pegawai tenaga kependidikan. “Peserta dalam kegiatan ini berjumlah 50 orang dosen dari berbagai fakultas yang ada di Universitas Murmaruttung, dan juga ada 32 orang pegawai yang ikut serta bersama kita, menjadi peserta dalam kegiatan ini” Jelas Aditiya yang merupakan Kepala Biro AUAK yang juga ketua panitia kegiatan ini.

Berdasarkan pantauan humas bahwa Rektor telah menyampaikan tujuan dari prorgam merdeka belajar ini dihadapan para dosen dan pegawai, dimana dosen sebagai tenaga pendidik dan pegawai sebagai tenaga kependidikan yang saling membutuhkan kerjasama dalam rangka suksesnya kegiatan merdeka belajar kedepan. Isu tentang perkuliahan dengan metode merdeka belajar pun menjadi topik inti penjabaran narasumber dari sisi administrasi dan juga dari sisi regulasi yang mengaturnya. Antusias para dosen terlihat sangat baik dan disambut dengan santai dalam mendengarkan berbagai uraian dari rektor dan narasumber yang hadir.

Paragraf kelima dan selanjutnya: Menceritakan tentang respon, realitas pelaksanaan, dan testimoni

Kembali lagi pada konsep memasak makanan tersebut bahwa, penilaian akan rasa oleh pelanggan, gerak gerik mereka dalam menghabiskan makanan, apakah makanan tersebut nikmat di lidah, terasa pedas, asin, atau hambar. Feedback ini membutuhkan pengamatan dan bisa dengan menanyakan langsung atau survei. Konsep berita humas dalam hal ini adalah penguatan dimana data dan fakta yang datang dari panitia pelaksana harusnya ada juga informasi yang datang dari peserta, maka feedback dari data peserta tersebut dapat memberikan kesan akan keberhasilan dari suatu program yang dilaksanakan. Termasuk kesan atau testimoni yang diberikan oleh sumber yang berbeda. Inilah konsep pemberitaan yang seimbang secara fakta dan data yang ada, dimana sumber berita tidak hanya dari satu organisasi saja atau satu orang saja atau satu pihak saja tetapi ada dari berbagai pihak yang terkait dengan peristiwa tersebut.

Contoh:

Antusias para peserta dan yel-yel bergema memenuhi ruangan tersebut dalam rangka meningkatkan semangat para peserta yang langsung dimotori oleh narasumber dalam penyampaian materinya. Salah satu peserta yang hadir bernama Ummu Salamah yang merupakan dosen bidang pendidikan Islam menyampaikan bahwa sangat senang mengikuti acara ini karena semangat dari narasumber serta paparan tentang konsep merdeka belajar ini adalah sesuatu yang baik untuk pengembangan pendidikan di zaman modern. “Saya senang bisa hadir dalam acara ini, saya menilai bahwa Merdeka Belajar ini adalah solusi pendidikan di zaman modern ini. Paparan dari bapak narasumber tadi sangat baik dan mudah dicerna. Jadi menurut kegiatan seperti ini memang kami butuhkan selaku dosen di Universitas Murmaruttung”. Tegas Ummu dalam sesi testimoni dan pertanyaan setelah paparan narasumber berakhir.

Paragraf Akhir : bercerita tentang kekuatan program, promosi, dan sosialisasi

Paragraf akhir dari tulisan dalam kerangka kehumasan ini adalah penutup dimana ada ucapan harapan, kehadiran tokoh penting, pengungkapan narasi mengajak, sosialisasi image kampus atau bentuk lain yang sebenarnya jika ibarat makanan tadi kita kalau habis makan bayar, nah sipenjual makanan yang ramah bilang begini, terimakasih, (kalau singkat) kalau panjang bilang “terima kasih, jangan bosan datang lagi ya..mbak, pak, ibu” atau terkadang ia kasih kupon diskon ketika telah selesai bayar, terkadang dia bilang “kalau hari ini di pekan depan kami ada program diskon, ada event, kami undang saudara, bapak, mbak” sambil memberikan selebaran kepada pelanggan. Konsep ini juga sama sebenarnya dengan tulisan berita cuma cara menyampaikannya tidak dengan berbuat langsung, tetapi ditekankan pada narasi akhirnya, ada semacam ajakan, atau ada semacam uraian kehebatan dari program yang dilaksanakan tersebut. Yaa…bisa dibilang doorprize kalau di filantropi. Maka doorprizenya di tulisan ini adalah ada penguatan eksistensi dari program yang diberitakan, atau lembaga, atau organisasinya.

Contoh aja salah satunya begini:

Pada akhir acara seminar tersebut, narasumber, dan pimpinan turut diabadikan dalam foto bersama dengan para peserta juga. Pentupan acara seminar disampaikan oleh rektor Murmaruttung secara langsung. Beliau menyampaikan bahwa acara Seminar Pendidikan Merdeka Belajar ini akan menjadi corong dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Universitas Murmaruttung ke depan. Rektor juga mengapresiasi para tamu undangan dari Dinas Pendidikan, Bupati Tapanuli Selatan, serta para unsur pimpinan daerah yang hadir. Penguatan pendidikan ditegaskan oleh rektor bahwa Universitas murmaruttung akan menjadi rumah pendidikan islam yang mampu dalam mengembangan pendidikan dalam kemoderanan, keislaman, dan kearifan lokal di wilayah tapanuli selatan sekitarnya.

Demikianlah beberbagai penjabaran tentang story telling dalam pembuatan berita kali ini. Penting diketahui juga bahwa menulis berita tersebut adalah sesuai dengan sudut pandang dalam melaporkan informasi yang terjadi di lapangan. Banyak sudut pandang yang dapat digunakan, tentunya dengan mengikuti konsep dan rumus Info+fakta/data+realitas/respon+promosi tujuan. Tergantung dari penulisnya saja, jika memakai logika sudut pandang jurnalistik umum atau jurnalistik kehumasan.