Alexandra Pane

Thursday, March 11, 2021

Foto : Prof. Syahrin Harahap dalam Menjelaskan Moderasi Beragama.

Dalam sebuah acara Seminar Ilmiah dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Kampus di salah satu kampus di Tapanuli Bagian Selatan, IAIN Padangsidimpuan. Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA yang dikenal dengan Rektor UIN Sumatera Utara menjelaskan tentang makna mendasar dari Moderasi Beragama. Suatu ungkapan yang sedang trend saat ini dan dicanangkan oleh pemerintah dalam upaya memberantas radikalisme dan benih-benih terorisme di Indonesia.

Uniknya profesor ini menjelaskan dengan bahasa yang dekat dengan kearifan lokal di tanah Batak. Ya wajarlah dia memang orang batak bermarga Harahap. Nah yang menariknya adalah bahwa maksud dari ungkapan moderasi beragama ini adalah luas atau yang disebut juga sebagai central.

Selama ini kita beranggapan bahwa moderasi beragama ini masih konsep mengambang dan kurang tersosialisasi dengan masyarakat. Ternyata moderasi beragama ini sangat penting dalam menjaga persaudaraan dan menerima pendapat orang lain atau barangkali adalah kita tidak melecehkan atau memberikan statement mengkafirkan orang lain jika ada perbedaan dalam pemahaman dan cara beragama.

Penulis ingin berbagi tentang apa yang telah dipelajari, didapatkan, ditangkap, dicerna, dipahami dari penjelasan professor Syahrin Harahap tentang moderasi beragama. Memang beliau ini banyak menulis buku yang menjelaskan tersebut, kita bisa melihat dan membacanya secara langsung bagi yang memiliki bukunya. Akan tetapi penulis mendengar secara langsung dari lisan beliau tentang penjelasan moderasi beragama dari ceramahnya di IAIN Padangsidimpuan. Ini telah membuka pengetahuan dan daya nalar penulis dalam memahami tersebut.

Cobalah simak beberapa kutipan ceramah beliau yang sudah transkrip.

Mengapa kita bicara moderasi beragama? Indonesia sekarang ini masuk dalam perangkap, kategorisasi masyarakat. Karena muncul disini radikalisme, bahkan terorisme maka Indonesia di dunia Internasional masuk dalam kategori tempat bersembunyinya para radikalis dan teroris. Padahal radikalis dan terorisme tidak ada di Indonesia. Kalaupun ada dia hanya terbawa-bawa oleh yang lain akhirnya kita semua dikategorikan terjebak dalam Radikalisme.

Bagaimana kita mengobati ini? Dunia ini meminta kepada kita, agar kamu tidak disebut sebagai sarang radikalisme, kembangkanlah apa yang disebut moderasi beragama. Beragama, religion and religiusity, agama dan beragama. Kalau agama ajaran agama, tidak perlu dimoderasi. Tapi kalau beragama, cara beragama, itu perlu dimoderasi.

Apa yang mau sampaikan adalah cara beragama itu harus dimoderasi, bukan agama, tapi cara beragamanya. Anso bisa margaul tu jae dohot tu julu (supaya bisa bergaul atau berteman kemana-mana). Kalau dia berpandangan rijit, yang tak sama dengan dia, tak mau dia ikut.

Awalnya kita harus membedakan kata agama dan beragama. Jika dikatakan agama adalah tidak perlu dimoderasi karena itu adalah ajaran, sehingga tidak perlu dimoderasi, lain halnya dengan ber-agama (ada imbuhan ber-). Ini adalah cara seseorang melaksanakan, memahami, mengimplementasikan agama. Inilah yang harus dimoderasi. Sebagai contoh misalnya ada seseorang yang hendak melaksanakan shalat berjamaah di subuh, si Imam melaksanakan qunut, sedangkan salah satu jamaah ini memahami tidak boleh qunut. Sehingga dia melewatkan dirinya untuk tidak ikut shalat berjamaah. Perihal seperti ini sering terjadi di lingkungan masyarakat yang berbeda memahami perbedaan pendapat. Padahal itu tidaklah menjadi suatu kesalahan dalam shalat. 

Contoh lain yang lebih sering mungkin kita jumpai di masyarakat adalah ada seseorang sering mengkafirkan, mengkufurkan, membidahkan, serta mengharamkan perkara sesuatu yang sebenarnya itu perkara nawafil. Sebut saja masalah Yasinan, tak jarang kelompok tertentu dalam Islam mengatakan bahwa pelaksanaan Yasinan ini adalah salah dan tidak ada dalam Sunnah Rasulullah Saw. Nauzubillah...

Itu memang contoh dalam perkara Ibadah, coba bayangkan jika perkara itu merunut pada masalah akidah dan keyakinan dalam memahami ajaran agama. Seperti memaknai Jihad dalam Islam, bisa jadi hal ini diselewengkan oleh oknum pihak tertentu sehingga jihad itu dimaknai harus perang dan menumpahkan darah orang kafir. Tidak tertutup kemungkinan jika kelompok yang memiliki pemahaman atau "cara beragama" yang demikian akan membawa kehancuran bangsa. 

Inilah pentingnya menurut penulis dalam artikel ini bahwa apa yang disampaikan oleh Professor Syahrin Harharap ini adalah suatu perlu dalam elemen sosial kemasyarakatan. Silahkan komentar dan nantikan artikel selanjutnya tentang moderasi beragama.

#moderasiberagama

#syahrinharahap


0 Comment